Menyibak Rahasia Sains Dalam Alquran - JIHAD ILMIAH
Headlines News :
Home » » Menyibak Rahasia Sains Dalam Alquran

Menyibak Rahasia Sains Dalam Alquran

Written By Guruku Kyai Bukan Mbah Google on Sabtu, 25 Februari 2012 | 12.55


Dimuat di RADAR SURABAYA. Minggu, 19 Februari 2012

Judul Buku: Miracle of The Quran
Penulis: Caner Taslaman
Penerbit: Mizan
Cetakan: 2011
Tebal: 482 Halaman
Harga: Rp 79.000
Peresensi: Abdul Aziz MMM



Islam bukan hanya ajaran agama, tetapi Islam juga merupakan sebuah jalan menuju hidup harmonis yang secara terpadu mampu menghadapi tiga dimensi kehidupan: dimensi alam fana, barzakh, dan akhirat.

Jika melihat dari sudut pandang sains dan teknologi, maka sudah bukan rahasia lagi bahwa di dalamnya termuat penjelasan tentang materi, energi dan informasi. Islam secara terpadu dapat mengungkapkan kejadian-kejadian bertema sains maupun teori sains mutakhir. Semua informasi tersebut dapat kita temukan di dalam al-Quran yang merupakan kitab suci umat Islam. Meski demikian, al-Quran tidak dapat disebut sebagai sebuah buku pelajaran sains. Tetapi, al-Quran merupakan penuntun bagi umat manusia dalam mengarungi ketiga dimensi kehidupan di atas.

Para ilmuwan yang telah bersentuhan dengan al-Quran mengungkapkan bahwa penjelasan-penjelasan al-Quran selalu selangkah lebih maju dibanding penemuan-penemuan sain modern. Setiap penemuan hebat pada abad kontemporer ternyata sudah dijelaskan oleh al-Quran sejak empat belas abad yang silam.

Salah satu bukti yang disuguhkan oleh Taslaman penulis buku ini adalah dalam Q.S. al-Rum; ayat 3, yang meramalkan kekalahan Romawi di bagian terendah di muka Bumi. Ungkapan ayat adna al-ardh selama ini bisa diterjemahkan kalangan ulama konvensional sebagai “daerah yang dekat”, padahal menurut Taslaman terjemahan tersebut tidak mengungkapkan inti makna ayat, yang lebih tepat bermakna “bagian terendah di Bumi”.

Terbukti, sejarah mencatat bahwa peristiwa tersebut terjadi di Laut Mati, sebuah daerah yang diperkirakan berada empat ratus meter di bawah permukaan laut, sekaligus menjadikannya sebagai titik terendah di muka bumi, yang validitasnya baru terbukti beberapa millenium kemudian dengan ditemukannya teknik-teknik pengukuran permukaan Bumi yang canggih (hlm. 275).

Dengan demikian, upaya Taslaman untuk membuktikan mu’jizat al-Quran dapat tercapai, dengan pernyataan al-Quran empat belas abad yang lalu bukan sekedar meramalkan peristiwa yang akan terjadi di masa datang, namun juga secara terperinci dan jitu menunjukkan kondisi geologis peristiwa tersebut terjadi. Inilah bukti kebenaran al-Quran di mata sains, yang baru belakangan mampu memahaminya.

Fakta-fakta tersebut bisa dibaca dalam buku ini. Sebuah buku yang akan menyadarkan kita betapa al-Quran merupakan suatu himpunan informasi tentang masa lalu, masa kini sekaligus masa depan yang tak dapat disangkal kebenarannya.

Taslaman selalu meletakkan al-Quran sebagai sumber rujukan utama. Adapun sumber rujukan kedua adalah hadits-hadits sahih dan syarahnya, kemudian penemuan-penemuan sains modern menjadi rujukan ketiga. Di snilah penulis menggunakan akal pikirannya (logika). Dengan demikian, ayat-ayat sains akan lebih tergali maknanya jika direnungkan oleh masyarakat sains.

Selain itu, informasi yang terkandung dalam al-Quran pada dasarnya turun dalam bentuk konklusif terkadang misterius, dan tugas manusia menemukan formulasi yang tepat untuk memahaminya. Berbeda dengan sains, yang harus melalui proses empirik mapun penelitian hingga ditemukan sebuah kesimpulan.

Selain mengupas tujuh puluh tema al-Quran yang dihubungkan dengan penemuan sains terkini, Taslaman juga menyuguhkan lima puluh keajaiban matematis al-Quran dalam konkordansi leksikal. Salah satunya berupa struktur ajaib dalam al-Quran yang dihasilkan angka sembilan belas. Dalam surat al-Mudatstsir, angka sembilan belas ditekankan dengan pernyataan ayat, Di atasnya ada 19 dan ayat yang ke-31 yang menjelaskan fungsi serta tujuan bilangan 19.

Ayat 31 dalam surat al-Muddatstsir ini sedemikian istimewa bukan hanya karena panjangnya yang di atas rata-rata ayat lain, namun dalam ayat inilah keajaiban 19 dapat dibuktikan. Misalnya, ayat ini terdiri dari 57 kata (19x3), sementara ayat sebelumnya terdiri dari 3 kata. Jika dikalikan 3 kata dengan angka 19 yang terdapat dalam ayat 30, maka hasilnya adalah 57, jumlah kata yang terdapat dalam ayat 31.

Hal inilah yang menjadi bukti paling kuat atas mu’jizat al-Quran yang tidak dapat ditiru oleh siapapun. Lalu mengapa harus matematika?, mengutip ucapan Galileo, Ia menyatakan bahwa matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan untuk menuliskan jagat raya. Taslaman berasumsi hal ini untuk memelihara bukti kebenaran al-Quran itu sendiri. (halaman. 372)

Tapi cukupkah semua itu pada kekaguman saja? Tidak. Kita harus berbuat lebih jauh dari itu, yakni mensyukuri segala nikmat Allah. Itulah yang ditegaskan oleh Taslaman di bagian akhir buku ini. Akhirnya kita menyadari bahwa kita merasa sangat malu dan tidak tahu diri bila selama ini kurang bersyukur atas segala nikmat-Nya. Bukankah setiap detik kita diberi oksigen, sinar mentari, sinar rembulan, air, dan nikmat lainnya yang tidak akan mampu menghitungnya?.

Inilah buku paling komprehensif yang mengkaji hubungan antara al-Quran dan sains modern. Ditulis dengan gaya yang mudah dipahami oleh orang awam. Buku ini mengarahkan pembaca untuk memperdalam pemahaman tentang penciptaan alam semesta. Dengan memahami buku ini akan bertambah kuat imannya semakin cinta Islam dan pada akhirnya semakin senang beramal saleh termasuk di antaranya bersyukur kepada Allah SWT.
*)Peresensi: Abdul Aziz MMM
Pengelola  Renaisant Institute Tinggal di Yogyakarta

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Kenalin Saya

Foto saya
GURUKU KYAI BUKAN MBAH GOOGLE Belajarlah agama kepada guru yang sanad keilmuannya sampai kepada Rasulullah. Belajar langsung dengan bertatap muka kepada guru fadhilahnya sangat agung. Dikatakan bahwa duduk di majelis ilmu sesaat lebih utama daripada shalat 1000 rakaat. Namun jika hal itu tidak memungkinkan karena kesibukan yang lain, maka jangan pernah biarkan waktu luang tanpa belajar agama, untuk mendekatkan diri kepada Allah, namun tetap harus di bawah pantauan atau bimbingan orang yang ahli. HATI-HATI DENGAN GOOGLE Jika anda suka bertanya hukum kepada mbah google, pesan kami, hati-hati karena sudah banyak orang yang tersesat akibat tidak bisa membedakan antara yang salaf dengan yang salafi. Oleh karena itu untuk membantu mereka kaum awam, kami meluncurkan situs www.islamuna.info sebagai pengganti dari google dalam mencari informasi Islam. Mulai sekarang jika akan bertanya hukum atau info keislamna, tinggalkan google, beralihlah kepada Islamuna.info Googlenya Aswaja.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. JIHAD ILMIAH - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template